Saya mengenal apa itu cinta di mulai waktu saya dibangku SMA, tepatnya waktu kelas X semester II. Dimana saya masih berumur 16 tahun, masih unyu-unyu nya :p.
Pernah dengar pepatah "Benci dekat dengan Cinta, dan Cinta dekat dengan Benci" bukan ?. Yah, awalnya saya benci dengan seseorang yang akhirnya saya sukai ini.
Dulu saya suka banget ngobrol dan bercanda dengan teman-teman baik saya. Dan pada saat itu, disaat sedang asik-asiknya saya ngobrol dengan salah satu teman saya, kami di bentak dari belakang oleh salah satu teman cowo sekelas kami . Betapa jengkelnya saya pada saat itu. Dan dari situ, saya mulai benci dengan cowo itu. Sebut saya namanya Rahmat Basuki atau biasa dipanggil Ibas.
Setelah kejadian itu, hari-hari saya dipenuhi dengan kejengkelan terhadap si Ibas itu. Bahkan, untuk melihat mukanya saja saya tidak mau. Ketika dia sedang dihukum dan di suruh berdiri di samping papan tulis, dengan cepatnya saya menoleh kebelakang atau mencari kesibukan lain dari pada harus melihat muka dia didepan itu. Pokoknya, bencinya pake bangeeeeetttttttttttttttttttttttt.
Pada suatu ketika, dikala sedang istirahat, saya duduk sendiri di kelas tanpa teman. Dan pada saat itu, datang seorang cowo menghampiri saya. Kagetnya bukan maen, ternyata si Ibas lah yang menghampiri ku dan duduk didepan saya dengan menghadap ke muka saya. Tatapan muka pun tak terelakan pada saat itu. Dan akhirnya terjadilah perbincangan diantara kami :D.
Dimulai dari situlah, saya dan Ibas menjadi akrab dan berteman baik. Bahkan setiap istirahat sekolah, kami bagai perangko yang lengket pada si amplop. Kita selalu bersama-sama, bercanda bersama, ngobrol ini itu tanpa kenal waktu.
Dan pada akhirnya saya mulai menaruh hati pada Ibas AHHAHAHAHAHA.
Hari-hari saya dan ibas pun tak terelakan dengan gosip teman-teman sekelas diantara kami. Banyak yang bilang saya adalah pacar Ibas. Padahal kita hanya sekedar teman dekat, karena saya tau bahwa Ibas sendiri sudah mempunyai pacar pada waktu itu :(.
Waktu terus berjalan, dan kenaikan kelas pun sudah dekat. Hari-hari yang aku tidak inginkan ternyata terjadi, dimana saya dan Ibas terpisah. Saya ditakdirkan masuk jurusan IPA (pinter kali yeeee,, padahal nilai biologi kosong wkwkkw), sedangkan Ibas masuk IPS. Sebenarnya saya menginginkan masuk IPS supaya bisa dekat terus dengan Ibas, tapi apa boleh buat..mungkin karena kepintaran sayalah yang mengakibatkan kami harus berpisah. HAHHAHAH.
Menjalani masa-masa kelas XI tanpa Ibas, memang terasa kosong. Tapi lama-kelamaan mulai terbiasa juga.Tapi dengan pada akhirnya saya mendengar kabar bahwa Ibas sudah mendapatkan cewe barunya. Dan ternyata kabar itu membuat gue sakit untuk kedua kalinya. Dimana yang pertama, pada waktu kelas X, saya selalu mencoba mencari pelarian karena tidak tahan dengan perasaan sakit akan cinta gue yang tidak mungkin terbalas karena ibas telah mempunyai pacar. Dan kini disaat Ibas telah putus dengan cewe lamanya,disaat juga aku mempunyai kesempatan untuk dekat, tapi harus terpisah. Walau masih satu sekolahan, tapi kesempatan untuk setiap hari berkomunikasilah yang menjadi alasan mengapa dia sekarang jadian dengan teman sekelas nya itu. Cewe itu lebih punya banyak waktu dan kesempatan untuk mendekati dan meraih hati Ibas.
Hari terus berganti, dan aku pun terus mencoba untuk melupakan Ibas. Tapi apa boleh buat, disaat aku ingin melupakannya dengan cara mencari pelarian-pelarian lainnya, tapi ternyata tetap saja aku tak bisa melupakan nya. Ditambah lagi, akhir-akhir ini dia selalu saja mengunjungi kelas ku pada saat istirahat sekolah dan selalu memanggilku untuk keluar menemuinya di depan kelas untuk ngobrol. Dan bagaimana mungkin saya bisa melupakan sosok Ibas, sosok dimana aku selalu mengharapkan dialah yang menjadi kekasih ku
Kebiasaan Ibas yang sering mengunjungi kelas ku, membuat pacar Ibas itu menjadi berubah sifat terhadap ku. Dimana dulu dia terlihat ramah, dan sekarang dia terlihat agak enggan menyapa ku.Tapi aku tak ambil pusing dengan masalah itu, akupun tak mau mengerti tentang perasaan dia. Yang jelas aku bahagia, karena Ibas ternyata masih perhatian ma aku.
Aku tau, akulah yang berada dipihak ke-3 diantara hubungan mereka. Tapi apa boleh buat, aku sayang ma Ibas, bahkan sayang aku itu lebih dulu terhadap Ibas ketimbang sayangnya pacarnya Ibas yang sekarang ini. Karena akulah yang terlebih dahulu kenal dan dekat dengan Ibas.
Waktu terus berjalan, dan pada akhirnya kita naik kelas XII. Tidak beda dengan yang dulu-dulu, aku tetap saja masih sayang ma Ibas. Walau saya sudah mempunyai pacar, tetap saja saya hanya menganggap pacar saya itu sebagai pelarian, karena sayang gue cuma hanya untuk Ibas seorang. Perasaan sayang gue ke Ibas pun bukan hanya gue yang tau, Ibas atau teman-teman lainnya juga tau. Karena ini semua bukan suatu rahasia.
Pada suatu hari, saya dengar bahwa Ibas telah putus lagi dengan pacarnya itu. Tapi tidak lama kemudian saya dengar lagi bahwa dia sudah menggaet cewe barunya :(. Dalam hati saya berkata, "Mungkin Ibas bukalah jodohku".
Kali ini, dia menggaet cewe yang tidak asing lagi, yaitu dimana cewe ini sudah aku kenal dari kecil. Cewe ini adalah cucu dari tetangga saya sendiri.Betapa sakit nya saya pada saat itu
Tidak beda dengan cewe terdahulunya, cewe yang sekarang ini juga ikut-ikutan berubah sifatnya terhadap saya. Bahkan lebih parah ketimbang cewe terdahulunya itu. Teman-teman cewe Ibas yang sekarang ini, justru lebih tidak suka terhadap saya. Mungkin karena mereka menganggap aku selalu saja dekat dengan Ibas.
Tiada ada seorangpun yang bisa melarang saya untuk tidak dekat dengan Ibas. Karena Ibas sendiri tidak pernah melarang saya untuk tidak dekat dengan dia. Bahkan Ibas sendirilah yang selalu mendekati saya. Dikala saya jengkel dan tidak menyapa nya pun, dia langsung menegur saya.
Ingat sekali sifat saya terhadap Ibas dimasa-masa itu. Dimana saya yang bukan apa-apanya Ibas, selalu saja cemburu terhadapnya. Dan kecemburuan ku itu membuat aku ingin menjauh dari Ibas. Tapi, memang hati ini tidak bisa mengelak bahwa saya tidak bisa menjauhinya.
Banyak hal-hal bodoh yang aku lakukan waktu itu. Seperti halnya pada saat jam Istirahat sekolah ke-2 dimana Ibas dan banyak anak-anak lainnya untuk melakukan ibadah sholat Dzuhur. Dengan bodohnya saya ikut-ikutan sholat dzuhur hanya karena ingin dilihat Ibas HAHAHAHHAA. Kalau lagi beruntung, Ibas melihat saya dimasjid dan biasanya menegur saya yang pada akhirnya kita ngobrol sampai bel masuk. Tapi dikala tidak beruntung, hanya muka cemberutlah yang terlihat dari muka ku ini.
Ujian Akhir Nasional pun aku ikuti dengan badan yang kurang sehat. Tapi untunglah, saya lalui ujian itu dengan baik. Tapi ternyata pada saat hari terakhir ujian, kejadian memalukan terjadi. Sepatu saya disita, karena berwarna biru :(. Dengan terpaksanya, saya pulang tanpa alas kaki. Dengan rasa malunya, saya kebutkan motor saya. Dasar hari itu memang sial, ditengah jalan saya di kepung kanan-kiri oleh anak-anak cowo dari sekolahan lain yang mengendari motor juga. Bukan hanya dikepung, tapi di caci juga. Katanya "kaki jelek aje pake nyeker segala!" dengan seketika gue DOWN :| .
Tanpa diharapkan, ternyata terlihatlah didepan mata sosok pahlawan yang aku inginkan muncul untuk membantu ku :D. Yah, siapa lagi kalau buka Ibas. Betapa baiknya dia, rela meminjamkan sepatunya kepada saya. Dan pulanglah saya dengan muka yang tersenyum-senyum sendiri kaya orang gila :D.
Tidak lama lagi kelulusan sekolah akan datang. Dan tidak hanya saya, teman-teman lainnya pun ikut merasakan sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman yang selama 3 tahun ini menemani. Yah jujur saja, akulah mungkin yang akan teramat sedih, karena pasti akan berpisah dengan orang yang aku sayangi ini.
Kisah romantis pun terjadi lagi diantara detik-detik menunggu pengumuman itu. Diantara banyak siswa yang menunggu di depan gerbang sekolah dengan cemasnya, saya malah asyik-asyikan ngobrol dengan Ibas dan teman lainnya. Kita ngobrol tentang perencanaan setelah kelulusan mo pergi kemana.
Beberapa menit kemudian, pengumuman itu selesai dibagikan pada setiap wali murid. Untunglah, saya dan Ibas berhasil lulus.
Terdengar teriakan seseorang cewe yang menangis dari tempat yang tidak diketahui. Dan ternyata salah satu teman cewe nya Ibas lah yang menangis karena tidak lulus. Dengan cepatnya Ibas menghampiri mereka. Disisi lain saya mulai cemburu lagi. Saya hanya diam dan tetap tidak ada gerak. Dengan rasa jengkel saya, saya menolak ajakan Ibas dan salah satu teman cowo ibas yang mengajak saya untuk ikut mengunjungi teman cewe nya itu dan ditambah harus bersamaan dengan orang yang aku tidak sukai. Akhirnya saya memilih jalan sendiri dengan teman-teman sekelas lainnya.
Setelah kelulusan itu,kehidupan barupun kita jalani masing-masing. Dan saya dengar juga, bahwa Ibas telah putus dengan cewenya itu, dan kini dia masih sendiri.
Selang beberapa bulan, saya mendapat kabar dari Ibas. Dan ternyata, dia menceritakan semuanya tentang perasaan dia waktu masih masa-masa sekolah dulu. Dan ternyata dia juga sebenarnya menaruh hati pada saya. Tapi dia tidak mau menyatakannya kepada saya dengan alasan bahwa dia tidak ingin jauh dari saya. Karena, kebanyakan dari orang yang berhubungan dengan status, setelah putus mereka bermusuhan. Dari situ aku mengerti, bahwa "Cinta tak harus memiliki".
Dan setelah perpisahan itu, tanpa adanya komunikasi yang sering, ternyata perasaan yang selama 3 tahun aku pertahankan hanya untuk Ibas, kini harus berakhir ketika Ibas sendiri menyatakan cinta pada saya. Sekarang saya tidak terlalu mencintai dia seperti dulu disaat saya sangat menyayangi dia tanpa menghiraukan perasaan orang lain yang menyayangi saya waktu itu. Akhirnya, kisah cinta pertama saya tidak Happy Ending :(.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar